Kamis, 19 April 2012

POLA KONSUMSI, TABUNGAN DAN INVESTASI


MAKALAH  EKONOMI MAKRO DAN MIKRO

POLA KONSUMSI, TABUNGAN DAN
INVESTASI








Disusun Oleh :

NAMA         : DAHYAR MASUKU
NIM             : K11111641
KELAS        : A

Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Hasanuddin
Makassar
2012



KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji serta syukur ke hadirat Allah yang maha kuasa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada saya sehingga dapat menyelesaikan makalah dengan judul POLA KONSUMSI, TABUNGAN DAN INVESTASI)

Saya menyadari bahwa di dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian,  saya telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang saya miliki sehingga dapat selesai dengan baik, dan oleh karena itu dengan rendah hati, saya berharap kepada pembaca yang budiman untuk memberikan masukan, saran dan kiritik yang sifatnya membangun guna penyempurnaan makalah ini.

Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.
                                                           



Makassar,                2012


Penulis





DAFTAR ISI


Halaman Judul  ............................................................................................................. i
Kata Pengantar  ........................................................................................................... ii
Daftar Isi  ....................................................................................................................... iii

BAB I. PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang .................................................................................................   1
B.     Permasalahan ...................................................................................................   2
C.    Tujuan Penulisan  ..............................................................................................   2    

BAB II. PEMBAHASAN
A.     Teori Konsumsi dan Tabungan .......................................................................   3
B.     Fungsi Konsumsi dan Tabungan .....................................................................  6
C.    Faktor-faktor yang mempengaruhi Konsumsi dan Tabungan .....................   10
D.    Teori Investasi ................................................................................................      11
E.     Faktor-faktor yang mempengaruhi Investasi .................................................   14



BAB III. PENUTUP
Kesimpulan  ..............................................................................................................  16
Saran ..........................................................................................................................  17

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... .  18


BAB I
                                                    PENDAHULUAN                               

A.        LATAR BELAKANG

Teori konsumsi diperkenalkan oleh John Maynard Keynes sesudah terjadinya Depresi Ekonomi tahun 1929-1930 melalui bukunya yang berjudul ” The General Theory of Employment, Interest dan Uang ”.  Berbagai kritikan dan penyempurnaan terhadap teori ini kemudian bermunculan, antara lain kritikan yang datang dari ” Keynesian” Simon Kuznets dengan konsumsi jangka panjangnya.  Teori Konsumsi kemudian juga dikembangkan oleh  Milton Friedman dengan Permanent Income Hypothesis, yang setuju dengan pemikiran Adam Smith tentang kebebasan pasar .  Franco Modigliano  dengan teori life cycle Hypothesis - LCH), dan James Duesenbery yang mempelopori teori konsumsi melalui Relative Income Hypothesis – RIH adalah ahli ekonomi yang sealiran dengan Keynes.

Kata consumption dilambangkan dengan huruf C adalah bagian dari pendapatannya yang dibelanjakan sedangkan bagian pendapatan yang tidak dibelanjakan disebut tabungan dilambangkan dengan huruf S (saving). Apabila pengeluaran-pengeluaran konsumsi semua orang dalam suatu Negara dijumlahkan, maka hasilnya adalah pengeluaran konsumsi masyarakat Negara yang bersangkutan. Disisi lain jika tabungan semua orang di suatu Negara dijumlahkan, maka hasilnya adalah tabungan masyarakat Negara tersebut. Selanjutnya, tabungan masyarakat bersama-sama dengan tabungan pemerintah membentuk tabungan nasional. Yang terakhir ini, tabungan nasional merupakan sumber dana investasi.

Konsumsi seseorang berbanding lurus dengan pendapatannya. Secara makroagregat, pengeluaran konsumsi masyarakat berbanding lurus dengan pendapatan nasional. Semakin besar pendapatan, semakin besar pula penggeluaran konsumsi.
Perilaku tabungan juga begitu. Jadi, bila pendapatan bertambah, baik konsumsi maupun tabungan akan sama-sama bertambah. Perbandingan besarnya tambahan pengeluaran konsumsi terhadap tambahan pendapatan disebut hasrat marjinal untuk berkonsumsi (marginal propensity to consume, MPC). Sedangkan nisbah besarnya tambahan tabungan terhadap pendapatan dinamakan hasrat marjinal untuk menabung ( marginal propensity to save, MPS). Pada masyarakat yang kehidupan ekonominya relative belum mapan, biasanya angka MPC mereka relative besar, sementara angka MPS mereka relative kecil. Artinya, jika mereka memperoleh tambahan pendapatan, maka sebagian besar tamabhan pendapatan itu akan teralokasikan untuk konsumsi


B.        PERMASALAHAN


Dari penjelasan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan pada makalah ini adalah:

A.        Teori Konsumsi dan Tabungan
B.        Fungsi Konsumsi dan Tabungan
C.        Faktor-faktor yang mempengaruhi Konsumsi dan Tabungan
D.        Teori Investasi
E.        Faktor-faktor yang mempengaruhi Investasi

C.        TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan makalah ini adalah :

1.         Mengetahui dan memahami Teori Konsumsi dan Tabungan
2.         Mengetahui dan memahami Fungsi Konsumsi dan Tabungan
3.         Mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi Konsumsi dan Tabungan
F.        Mengetahui dan memahami Teori Investasi
4.         Mengetahui dan memahami Faktor-faktor yang mempengaruhi Investasi



BAB II
PEMBAHASAN


A.        Teori Konsumsi dan Tabungan

Konsumsi  berasadari bahasa  Inggris  yaitu (Consumption) adalah pembelanjaan  atas  barang-barang  dan  jasa-jasa  yang  dilakukan  oleh  rumah  tangga dengatujuan  untuk memenuhi  kebutuhan  dari orang  yang melakukan  pembelanjaan tersebut. Pembelanjaan masyarakat atas makanan, pakaian, dan barang-barang kebutuhan mereka  yang  lain  digolongka pembelanjaan  atau  konsumsi.  Barang-barang   yang diproduksi untuk digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dinamakan barang konsumsi (Dumairy, 2004).

John Maynard Keynes dalam bukunya yang berjudul ” The General Theory of Employment, Interest dan Uang. Menyatakan bahwa semakin besar pendapatan seseorang maka akan semakin banyak tingkat konsumsinya pula, dan tingkat tabungannya pun akan semakin bertambah. dan sebaliknya apabila tingkat pendapatan seseorang semakin kecil, maka seluruh pendapatannya digunakan untuk konsumsi sehingga tingkat tabungannya nol. Pendapatan suatu negara terdiri atas dua hal, yaitu : (1). Pendapatan Perseorangan ( Y=C+S) dan (2). Pendapatan Perusahaan (Y=C+I).  Apabila pendapatan berubah, maka perubahan tersebut akan berpengaruh terhadap konsumsi dan tabungan

Rumus Persamaan nya adalah : C = a + bY

Keterangan:
C    = konsumsi
Y    = pendapatan disposibel
 a    = konstanta
b     = kecenderungan mengkonsumsi marginal (Mankiw, 2003)


Tabungan ialah sisa dari pendapatan yang telah digunakan untuk pengeluaran pengeluaran konsumsi. Atau dengan kata lain saving ialah bagian daripada pendapatan yang tidak dikonsumsi. Dalam lingkup makro ekonomi saving dapat didefinisikan sebagai bagian dari pada pendapatan nasional per tahun yang tidak dikonsumsi.

Tabungan adalah bagian dari pendapatan dapat dibelanjakan (disposable income) yang tidak dikeluarkan untuk konsumsi. Ini merupakan tabungan masyarakat. Tabungan pemerintah adalah selisih positif antara penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin. Kedua macam tabungan ini membentuk tabungan nasional, merupakan sumber dana investasi. Pendapatan dimanfaatkan untuk konsumsi dan tabungan sehingga rumus umumnya:
Parallelogram: Y = C + S



Keterangan:
Y = Pendapatan
C = Konsumsi
S = saving (tabungan)

Karena Y = C + S maka S = Y – C, Jika kita subtitusikan  dengan fungsi konsumsi, maka:
S = Y – C
S = Y – (a + BY)
S = Y – a – BY
S = –a + (1 – b)Y




http://4.bp.blogspot.com/-Jbh0ty9bqZE/Ty9VuHtYzdI/AAAAAAAAA2g/E24TgYX7klc/s200/New+Picture.pngDalam fungsi saving juga mengenal Marginal Propensity to Save (MPS), yaitu perbandingan antara bertambahnya saving dengan bertambahnya pendapatan nasional yang mengakibatkan bertambahnya saving termaksud. Di mana perumusannya adalah sebagai berikut :


 Keterangan:
    S     =  Tambahan tabungan
    Y     =  Tambahan pendapatan
 MPS =  Marginal Propensity to Save
Di dalam fungsi konsumsi S = –a + (1 – b)Y, maka besarnya MPS = 1 – b Karena b = MPC, maka MPS = 1 – MPC atau MPS + MPC = 1. Untuk fungsi saving berbetuk garis lurus besarnya nilai S, yaitu marginal propensity to save, pada semua tingkatan pendapatan nasional adalah sama.

Kendati pada dasarnya semua sisa pendapatan yang tidak dikonsumsi adalah tabungan, namun tidak seluruhnya merupakan tabungan sebagaimana yang dikonsepsikan dalam makro ekonomi. Hanya bagian yang dititipkan pada lembaga perbankan sajalah yang dapat dinyatakan sebagai tabungan, karena secara makro dapat disalurkan sebagai dana investasi. Sisa pendapatan tidak dikonsumsi yang disimpan sendiri (istilah umumnya celengan) tidak tergolong sebagai tabungan.

Angka tabungan nasional sendiri merupakan hasil penaksiran pula, yaitu PDB dikurangi Nilai Konsumsi Akhir Sektor Rumah Tangga dan Sektor Pemerintah, ditambah Pendapatan Netto Faktor Produksi terhadap Luar Negeri. Jadi, karena kesulitan teknis penafsiran, metodologi perhitungannya dibalik. Bukannya tabungan masyarakat ditambah tabungan pemerintah menghasilkan tabungan nasional, melainkan tabungan nasional dikurangi tabungan pemerintah menghasilkan tabungan masyarakat. Kepraktisan metodologis semacam ini tentu saja merupakan kelemahannya.


Tabungan masyarakat bersama-sama tabungan pemerintah dan dana dari luar negeri merupakan sumber pembiayaan investasi. Dalam rangka menggalakkan peran serta masyarakat dalam pembangunan, tabungan masyarakat senantiasa diupayakan untuk terus meningkat.


B.        Fungsi Konsumsi dan Tabungan

Parallelogram: C = a + c  YdFungsi konsumsi Keynes adalah fungsi konsumsi jangka pendek. Keynes tidak mengeluarkan fungsi konsumsi jangka panjang karena menurut Keynes ” in the long run we’re all dead.” , bahwa di dalam jangka panjang, kita semua akan mati, sehingga jangka panjang tidak perlu diprediksi. Fungsi konsumsi Keynes dapat dijelaskan sebagai berikut

Fungsi konsumsi Keynes adalah: C = a + c Yd
Dimana
c        = Marginal Propensity to Consume (MPC)  0 < MPC < 1
a       = Konstanta atau autonomous consumption
Yd     = Pendapatan Disposable atau pendapatan yang siap dikonsumsi
Yd     = Y Tx  + Tr
Tx    = Pajak
Tr     = Subsidi

Fungsi  konsumsi  Keynes  adalah  fungsi  konsumsi  jangka  pendek.  Keynes tidak mengeluarkan fungsi konsumsi jangka panjang karena menurut Keynes in the long run were all dead. Bahwa di dalam jangka panjang, kita semua akan mati, sehingga jangka panjang tidak perlu diprediksi.

 Keynes melakukan penelitian hubungan fungsi konsumsi dengan mengambil data dari tahun 1929 1944. Hasil penelitian  di Amerika  Serikat tersebut menunjukkan  adanya  pengaruh  pendapatan  disposable  dengan  konsumsi, seperti yang terlihat dari gambar berikut:














Gambar 8.1. Fungsi konsumsi Masyarakat di Amerika Serikat
Tahun 1929 - 1944.

Tabungan ialah sisa dari pendapatan yang telah digunakan untuk pengeluaranpengeluaran konsumsi. Atau dengan kata lain saving ialah bagian daripada pendapatan yang tidak dikonsumsi. Dalam lingkup makro ekonomi saving dapat didefinisikan sebagai bagian daripada pendapatan nasional per tahun yang tidak dikonsumsi. Pendapatan dimanfaatkan untuk konsumsi dan tabungan sehingga rumus umumnya:
Parallelogram: Y = C + S


Keterangan:
Y = Pendapatan
C = Konsumsi
S = saving (tabungan)

Karena Y = C + S maka S = Y – C, Jika kita subtitusikan  dengan fungsi konsumsi, maka:
S = Y – C
S = Y – (a + BY)
S = Y – a – BY
S = –a + (1 – b)Y

Oleh karena itu kelebihan tabungan ini akan menyebabkan over investasi atau penimbunan, sehingga menimbulkan pengangguran. Apakah ini berarti perekonomian akan kembali ke depresi ? Perbandingan antara perkiraan (prediksi) dengan hasil aktual menunjukkan bahwa : Konsumsi adalah dibawah prediksi Tabungan adalah lebih tinggi dari yang diramalkan Implikasinya :  Faktor penentu  utama dalam persamaan perilaku konsumsi harus dihilangkan

Tabel Fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan
Tahun 1923 - 1940
saving
Sumber : web.uconn.edu



Rekonsiliasi  antara teori  Kuznets dengan teori Keynes (1) Menggunakan analisis Ekonometrika dari Arthur Smithies tahun 1954 Mengunakan  pendapatan disposal  (Yd) dan   konsumsi perkapita ,  dan trend waktu Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi konsumsi Keynes dan Kuznets hampir serupa, dan hanya berbeda pada pergeseran fungsi

Fungsi  konsumsi Kuznets  ditunjukkan oleh kurva yang “ meningkat.” (ditunjukkan pada gambar 4 dibawah) Perkiraan Smithies menghasilkan persamaan :

   C t * = 76.58 + 0.76Y t * + 1.15(t-1922)
   atau dengan kata lain
 C t * = [76.58 + 1.15(t-1922)] + 0.76Y t *
  yang merupakan bentuk persamaan garis : C = Co + cY












Gambar 4. Fungsi Konsumsi Keynes dan Kuznets
Sumber : web.uconn.edu

  
Rekonsiliasi  antara teori  Kuznets dengan teori Keynes (2) Penyebab pergeseran kurva konsumsi Keynes pada gambar 4 adalah : Adanya migrasi penduduk dari daerah pertanian ke kota (harus membeli barang) Pergeseran kesetaraan distribusi yang semakin besar  (yang miskin  menabung lebih sedikit) Kenaikan dalam standard hidup (kemewahan  menjadi kebutuhan) Untuk alasan inilah maka setiap orang harus meningkatkan konsumsinya


C.        Faktor-Faktor yang mempengaruhi Konsumsi dan Tabungan

1.     Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga, antara lain :
a.      Faktor Ekonomi
-    Pendapatan Rumah Tangga (Household Income )
-    Kekayaan Rumah Tangga ( Household Wealth )
-    Tingkat Bunga ( Interest Rate )
-    Perkiraan Tentang Masa Depan (Household Expectation About The Future)

Faktor-faktor internal yang dipergunakan untuk memperkirakan prospek masa depan rumah tangga antara lain pekerjaan, karier dan gaji yang menjanjikan, banyak anggota keluarga yang telah bekerja.  Sedangkan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi antara lain kondisi perekonomian domestic dan internasional, jenis-jenis dan arah kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintah.

b.      Faktor Demografi
-    Jumlah Penduduk
-    Komposisi Penduduk

c.      Faktor-faktor Non Ekonomi
-    Faktor social budaya masyarakat. Misalnya saja, berubahnya pola kebiasaan makan,
-    Perubahan etika dan tata nilai karena ingin meniru kelompok masyarakat lain yang dianggap lebih hebat/ideal.

2.     Faktor yang memengaruhi Tabungan (S), yaitu:
-    Pendapatan yang diterima
Semakin banyak pendapatan yag diterima berarti semakin banyak pula pendapatan yang disisihkan untuk saving.
-    Hasrat untuk menabung (Maginal Propensity to Save) Hal ini didorong dengan keinginan masing-masing individu dalam mengalokasikan pendapatannya untuk ditabung karena pertimbangan keamanan.
-    Tingkat suku bunga bank
    Semakin tinggi tingkat suku bunga simpanan maka semakin banyak masyarakatuntuk menabung (saving).


D.        Teori Investasi

Investasi adalah keputusan menunda konsumsi sumber daya atau bagian penghasilan demi meningkatkan kemampuan, menambah / menciptakan nilai hidup (penghasilan dan kekayaan). Investasi bukan hanya dalam bentuk fisik, melainkan juga non fisik, terutama peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Dalam teori ekonomi makro yang dibahas adalah investasi fisik. Dengan pembatasan tersebut maka definisi investasi dapat lebih dipertajam sebagai pengeluaran-pengeluaran yang meningkatkan stok barang modal. Stok barang modal adalah jumlah barang modal dalam suatu perekonomian pada saat tertentu.
  

1.     Investasi Dalam Bentuk Barang Modal dan Bangunan
Yang tercakup dalam investasi barang modal dan bangunan adalah pengeluaran-pengeluaran untuk pembelian pabrik, mesin, peralatan produksi, bangunan/gedung yang baru. Karena daya tahan madal dan bangunan umumnya lebih dari setahun, seringkali investasi ini disebut sebagai investasi dalam bentuk harta tetap (fixed investment).

Di Indonesia, istilah yang setara dengan fixed investment adalah pembentukan modal tetap domestic bruto (PMTDB). Supaya lebih akurat, jumlah investasi yang perlu diperhatikan adalah investasi bersih yaitu PMTDB dikurangi penyusutan.

2.     Investasi Persediaan
Perusahaan seringkali memproduksi barang lebih banyak daripada target penjualan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Tentu saja investasi persediaan diharapkan meningkatkan penghasilan/keuntungan. Persediaan barang tersebut dikatakan sebagai investasi yang direncanakan atau investasi yang diinginkan karena telah direncanakan. Selain barang jadi, investasi dapat juga dilakukuan dalam bentuk persediaan barang baku dan setengah jadi.

Nilai Waktu dari Uang

1.     Nilai Sekarang ( Present Value )
Nilai nominal dari sejumlah mata uang belum tentu akan lebih berharga dimasa datang. Hal ini sangat tergantung dari tingkat pengembalian investasi yang diinginkan.

V  =    X                     Ket :             V  =  Nilai yang akan datang
(1+r)                                               X  =  Nilai sekarang
                                                        t   =  Waktu
                                                        r   =  Faktor diskonto

2.   Nilai Masa Mendatang ( Future Value )
Menghintung nilai masa mendatang adalah kebalikan dari menghitung nilai sekarang dari output investasi yang direncanakan. Sekalipun melihat dari sudut pandang yang bertolak belakang, keputusan yang dihasilkan tetap sama.

F  =  A (1+r)          Ket :     F  =  Nilai masa mendatang yang diharapkan
                                       A  =  Investasi awal
                                        t   =  Waktu

Kriteria Investasi

1.     Payback Period
Payback period adalah waktu yang dibutuhkan agar investasi yang direncanakan dapat dikembalikan, atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Jika waktu yang dibutuhkan makin pendek, proposal investasi dianggap makin baik. Kendatipun demikian, kita harus berhati-hati menafsirkan kriteria payback period ini. Sebab ada investasi yang baru menguntungkan dalam jangka panjang (> 5 tahun).
2.     Benefit/Cost Ratio (B/C Ratio)
B/C ratio mengukur mana yang lebih besar, biaya yang dikeluarkan dibanding hasil (output) yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan dinotasikan dengan C (cost). Output yang dihasilkan dinotasikan dengan B (benefit). Keputusan menerima atau menolak proposal investasi dapat dilakukan dengan melihat nilai B/C. Umumnya, proposal investasi baru diterima jika B/C > 1, sebab berarti output yang dihasilkan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.
3.     Net Present Value (NPV)
Perhitungan dengan menggunakan nilai nominal dapat menyesatkan, sebab tidak memperhitungkan nilai waktu dari uang. Untuk membuat hasil lebih akurat, maka nilai sekarang didiskontokan. Keuntungan dari menggunakan metode diskonto adalah kita dapat langsung menghitung selisih nilai sekarang dari biaya total dengan penerimaan total bersih.
Selisih inilah yang disebut net present value. Suatu proposal investasi akan diterima jika NPV > 0, sebab nilai sekarang dari penerimaan total lebih besar daripada nilai sekarang dari biaya total.
4.     Internal Rate of Return (IRR)
Internal rate of return adalah nilai tingkat pengembalian investasi, dihitung pada saat NPV sama dengan nol. Keputusan menerima/menolak rencana investasi dilakukan berdasarkan hasil perbandingan IRR dengan tingkat pengembalian investasi yang diinginkan (r).

E.        Faktor-faktor yang Mempengaruhi Investasi

1.     Tingkat Pengembalian yang Diharapkan (Expected Rate of Return)
-    Kondisi Internal Perusahaan
Kondisi internal adalah faktor-faktor yang berada di bawah kontrol Perusahaan, seperti tingkat efisiensi, kualitas SDM  dan teknologi. Sedangkan  faktor non-teknis, seperti kepemilikkan hak dan atau kekuatan monopoli, kedekatan denga pusat kekuasaan, dan penguasaan jalur informasi.
-    Kondisi Eksternal Perusahaan
  Kondisi eksternal yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan akan investasi utama adalah perkiraan tentang tingkat produksi dan pertumbuhan ekonomi domestic maupun internasional.

2.     Biaya Investasi
      Hal yangpaling menentukan adalah tingkat bunga pinjaman. Makin tinggi tingkat bunganya maka biaya investasi makin mahal. Akibatnya minat akan investasi makin menurun. Namun tidak jarang, walaupun tingkat bunga pinjaman rendah, minat akan investasi tetap rendah. Hal ini disebabkan biaya total investasi masih tinggi dan faktor yang mempengaruhi adalah masalah kelembagaan.

3.     Marginal Efficiency of Capital (MEC), Tingkat Bunga, dan Marginal
      Efficiency of  Investement (MEI)

-    Marginal Efficiency of Capital (MEC), Investasi, dan Tingkat Bunga MEC adalah tingkat pengembalian yang diharapkan dari setiap tambahan barang modal.
-    Marginal Effeciency of Capital (MEC) dan Marginal Efficiency of Investment (MEI





  

BAB III
PENUTUP

A.        KESIMPULAN

1.         Konsumsi  adalah pembelanjaan  atas  barang-barang  dan  jasa-jasa  yang  dilakukan  oleh  rumah  tangga dengatujuan  untuk memenuhi  kebutuhan  dari orang  yang melakukan  pembelanjaan tersebut.
2.         Semakin besar pendapatan seseorang maka semakin banyak tingkat konsumsinya pula, dan tingkat tabungannya pun akan semakin bertambah. Begitu pula sebaliknya apabila tingkat pendapatan seseorang semakin kecil, maka seluruh pendapatannya digunakan untuk konsumsi sehingga tingkat tabungannya nol.
3.         Pendapatan suatu negara terdiri atas dua hal, yaitu : (1). Pendapatan Perseorangan ( Y=C+S) dan (2). Pendapatan Perusahaan (Y=C+I).  Apabila pendapatan berubah, maka perubahan tersebut akan berpengaruh terhadap konsumsi dan tabungan
4.         Konsumsi adalah dibawah prediksi, Tabungan adalah lebih tinggi dari yang diramalkan Implikasinya  
5.         Fungsi konsumsi Keynes adalah fungsi konsumsi jangka pendek. Keynes tidak mengeluarkan fungsi konsumsi jangka panjang karena menurut Keynes bahwa di dalam jangka panjang, kita semua akan mati
6.         Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga, antara lain :
-    Faktor Ekonomi
-    Faktor Demografi
-    Faktor-faktor Non Ekonomi  
7.     Faktor yang memengaruhi Tabungan (S), yaitu:
-    Pendapatan yang diterima
-    Hasrat untuk menabung (Maginal Propensity to Save) Hal ini didorong
-    Tingkat suku bunga bank
8.     Investasi adalah keputusan menunda konsumsi sumber daya atau bagian penghasilan demi meningkatkan kemampuan, menambah / menciptakan nilai hidup (penghasilan dan kekayaan). Investasi bukan hanya dalam bentuk fisik, melainkan juga non fisik, terutama peningkatan kualitas sumber daya manusia    


B.     SARAN

Jika ada kesalahan dan kekeliruan pada makalah ini maka kami  mohon kritik maupun saran yang sifatnya membangun dari pembaca demi kesempurnaan kedepan.



















DAFTAR PUSTAKA









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar